Wednesday, 23 July 2014

Acara Tipi Membosankan, Salah Siapa?

Puasa-puasa gini emang enak ye kalau lihat iklan sirup, apalagi yang airnya tuh netes-netes di gelas. Tapi, bukan itu yang akan gue bahas di postingan kali ini. Melainkan, acara tipi! Iya, nggak di facebook, twitter sampai kaskus, gue selalu melihat keluhan beberapa orang yang ngomong kalau acara tipi tuh makin hari makin sampah, alias gak bermutu. Salah satunya acara FTV yang gue sendiri berkecimbung di dalamnya sebagai penulis ide cerita. Memang sih, gue juga mengakui FTV tuh gitu-gitu aja, terlalu cepat alurnya juga nonsense banget. Masa si tokoh langsung ketemu sama jodohnya? begitu lihat intro aja udah ketebak deh siapa yang bakal jadian sama siapa. Iya, gue akuin itu memang pasaran. Namun, itulah tren yang diciptakan. Setiap acara, punya tren atau cirinya masing-masing.

Enggak beda jauh dari orang-orang yang menjual produk. Semua stasiun televisi juga gitu. Mereka bakal menciptakan produk mereka sendiri. Nah, produk mana yang banyak peminatnya, itu yang dipertahankan. Jujur sih, tahun 90-an tuh adalah masa di mana acara tipi sangat bervariasi. Gue bersyukur sudah menjadi saksi betapa bervariasinya musik di tahun itu, betapa bagusnya tontonan sinetron di era itu seperti keluarga cemara atau si doel anak sekolahan, betapa diperhatikannya acara anak-anak. Bahkan, acara untuk dewasanya pun ada. Gue kangen sama era itu, tapi mau gimana lagi, sekarang tuh era industrinya gila-gilaan. Siapa yang nggak bisa menghadirkan rating bagus, dia tergusur. Siapa penentu rating? ya kita-kita, kalian-kalian yang menonton-lah. Jadi, secara nggak langsung, kita-kita sendiri yang sudah menentukan mutu acara tipi akan seperti apa.

Gue ambil contoh aja sinetron Ganteng-Ganteng Serigala. Ada beberapa orang yang bilang tuh sinetron plagiatlah, kacrutlah, sampahlah. Tapi, pas ada adegan siapa tuh ya, gue lupa namanya pokoknya ada adegan yang si 'anu' putus dengan si 'itu', tiba-tiba langsung jadi trending topik di twitter! Gila, itu cuman sinetron keleusss. Intinya, kalian-kalian, kita-kita, yang nggak suka sama sinetron itu tuh cuman kaum minoritas. Satu-satunya cara lo bisa membuat acara yang lo anggap sampah itu berhenti adalah lo gedor rumah orang-orang yang nonton tuh acara, terus lo bunuh semua biar nggak ada yang nonton lagi. Gak mungkin kan? Hahaha... Susah memang.

Gue yakin, setiap orang kreatif yang berkecimpung di industri broadcasting ini pasti punya idealisme. Tapi, lagi-lagi idealisme itu terbentur dengan rating. Mau gak mau, lagi-lagi ngikutin kemauan yang di atas. Enggak munafiklah, semua orang butuh duit dan menurut gue itu halal kok. Gue sebagai penulis (sampingan) ide cerita ftv pun pada akhirnya harus tunduk dengan apa yang di mau sama stasiun televisi. So, kalau kita mau merubah acara tipi, bukan kita aja yang harus stop nonton acara 'sampah' itu, tapi juga semua orang yang menikmati acara itu. Cuap-cuap perorangan tuh percuma kalau masih tergolong minoritas, enggak bakal bisa merubah semuanya.

Thursday, 17 July 2014

Skenario Untuk Film Pendek (versi Belajar)

Skenario film pendek ini gue buat karena pengen belajar aja nulis skenario, huehuehue... Genrenya menurut gue drama inspiratif. Ceritanya tentang seorang penari streptease bernama Julia yang bertemu dengan Andre yang ternyata merupakan mantan gigolo yang mengidap penyakit AIDS. Pada akhirnya, justru pertemuan itulah yang membuat Julia tobat. Tenang, tenang, walaupun temanya rada aaaahh uuuhh, tapi ini ini bukan skenario film bokep. Langsung aja, ini skenarionya:

Thursday, 3 July 2014

Tips Membangun Mood Saat Menulis

Banyak orang yang bilang kalau nulis itu butuh 'mood'. Menurut gue, kondisi "gak mood" saat menulis itu adalah sebuah kondisi yang kita ciptakan sendiri. Gue juga sering banget ngerasa 'duh, kok jadi gak mood gini sih nulisnya..' Tapi, dalam beberapa momen, gue ngerasa kalau gue tuh benar-benar semangat menulis, ide ngalir begitu aja pas lagi nulis. Kenapa? Nah, setelah melalui beberapa pengalaman ketika menulis, gue mendapatkan beberapa hal yang bisa membangun mood dalam menulis ini.

1. Menulislah Genre yang Kita Sukai.
Terkadang, saking seringnya kita membaca, kita semakin pengen nulis-nulis genre serupa dengan apa yang kita baca. Interfensi dari bacaan seperti itulah yang biasanya menjadi godaan bagi penulis pemula, kayak gue. Menurut gue sih, kita harus menulis sebuah genre yang kita suka, yang kita bangetlah, bukan genre yang kita inginkan. Soalnya, kalau kita menulis genre yang kita inginkan, belum tentu itu genre yang kita sukai. Ujung-ujungnya, pasti deh berhenti nulis karena kita ternyata gak sepenuh hati nulisnya, padahal kita pengen benget nulis di genre itu. Imbasnya banyak karya yang sudah kita buat susah-susah di tengah jalan, eh kita buat baru lagi karena ngerasa gimanaaa gitu sama tulisan yang sebelumnya. Nah, itulah mood yang terganggu karena secara tak disadari, kita sudah berusaha mencoba menulis sesuatu yang gak kita suka. Yup, mood biasanya terbangung dari hal yang kita suka dulu, kayak cinta deh.

2. Jangan Memaksa Untuk Sempurna.
Hal ini juga sering gue alami sehingga entah kenapa mood bisa tiba-tiba hilang. Pas nulis, gue selalu langsung lihat apa yang gue tulis itu. Kadang baru nulis satu-dua kalimat, langsung gue cek. Padahal, langkah yang benar menurut beberapa orang penulis dan editor adalah selesaikan dulu apa yang mau kita tulis, baru setelah selesai semua kita koreksi. Kadang kalau kita nulis langsung koreksi, lama kelamaan kita bisa bingung sendiri. Sebaiknya, setelah selesai menulis sampai habis, istirahat dulu. Kalau perlu seharian biar otak kita fresh. Nulis di blog pun sama, untuk yang belum terbiasa, sebaiknya sih dijadiin draft dulu, terus besoknya baca lagi dan publish kalau sudah yakin oke.

3. Jarak atau Posisi Monitor dengan Mata dan Pencahayaan Saat Menulis.
Dari sisi non-teknis, hal ini sangat penting untuk penulis. Kita jangan nulis dengan kondisi terlalu menunduk terus atau ke atas terus. Usahakan pandangan kita ke monitor pc / laptop itu sejajar. Ini ngaruh banget dan ngefek abis bagi gue pribadi. Mood nulis jadi terganggu soalnya leher kita cepet pegel, jadi rada puyeng juga. Pencahayaan juga gak kalah pentingnya. Kalau nulis malem, jangan matiin lampu karena cahaya monitor jadi fokus nyorot mata kita sehingga mata kita cepet lelah. Usahakan cahaya kita menulis itu seimbang. Mood nulis, jadi bener-bener terganggu deh kalau kita salah menentukan posisi layar atau pengaturan pencahayaan.

4. Waktu Menulis.
Ini sebenernya yang tahu kita sendiri. Iya, cuman kita sendiri yang tau jam-jam produktif kita menulis. Memang sih kadang rubah-rubah, tapi cari tahu mayoritas dari jam berapa sampai jam berapa kita biasanya produktif nulis. Nulis di blog misalnya. Lumayan penting sih, soalnya mood nulis jadi 'lebih ada' kalau kita tahu kapan kita biasanya lancar menulis. Kalau gue pribadi sih biasanya malem dari jam 9-an sampai tengah malem. Nikmatnya lagi ditemenin kopi, abis tuh boker. Terus nulis lagi. Seger abis. Sekali lagi, tips yang ini cuman kita sendiri yang tahu. Jadi, jangan tanyain ke orang-orang ya kapan sih waktu yang tepat untuk menulis? jangan. Jawabannya ya kita sendiri yang tahu dan cari tahu deh dari sekarang kapan waktunya. Dengan kita tahu kapan waktu produktif kita menulis, di jamin pasti lancar deh nulis.

5. Suasana Ketika Sedang Menulis.
Nah, ini poin sebenernya rada sama sih dengan waktu menulis. Iya, suasana seperti apa sih yang bikin kita nyaman. Soalnya gini, gak semua orang suka nulis di tempat yang sepi. Kadang, ada juga kok orang yang baru bisa nulis lancar kalau sambil mendengarkan musik tertentu. Maka dari itu, cari sendiri suasana yang tubuh kita inginkan saat menulis. Selain itu, suasana hati juga perlu, kalau lagi patah hati, jangan nulis deh entar keyboard jadi penuh air mata. #eaa

Sekian sedikit tips membangun mood saat menulis dari gue yang standar ini, muahahaha.... Intinya, faktor teknis dan non-teknis sangat perlu untuk membangun mood. Kalau kita punya kosa kata terbatas, gak perlu berkecil hati, yang penting tulis aja dulu yang ada di kepala dengan perbendaharaan kata yang kita miliki. Menulis itu bukan paksaan, tulisan gue pun bisa di bilang standar abis. Yang penting, ada mood dan kemauan dalam mempertunjukkan tulisan kita ke orang-orang. Seperti kata Pandji, gimana lo mau dihargain orang kalau orang gak ngeliat proses lo! Yuk kita budayakan menulis, siapa tahu lo adalah hidden talent di bidang literature Indonesia, siapa yang tahu kan?
luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com

Copyright © Zona Feby Andriawan | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | BTheme.net      Up ↑