Sunday, 13 August 2017

Laptop ASUS ROG = Mimpi Gue!

Laptop, iya, nih barang selalu jadi pendamping gue sehari-hari. Berhubung gue sekarang gak punya PC, ya jadinya keseharian gue pakai laptop deh. Nah, masalahnya, laptop gue tuh cepat sekali panas dan ngelag! Kamfrets momen banget dan kebanyakan orang pasti mengalami hal yang sama kayak gue. Apalagi nih, pas main game. Gue sebenernya pengagum game-game berat dengan grafik yang aduhay, tapi berhubung sekarang laptop gue punya kemampuan yang pas-pasan, yah, jadi nya cuman main Football Manager aja deh, hiks... So, kalau ada yang nanya ke gue, Lu pengen laptop yang gimana? Ya jelaslah tanpa ba-bi-bu, a-i-u-e-o lagi, gue langsung jawab Laptop ASUS ROG! Hah, laptop ASUS ROG, apaan tuh Feb? Laptop nya seksi yah karena pakai rok? Bukaann! Yaelah hari gini gak tau ASUS ROG gimana? Nih gambarnya!



Informasi aja nih buat yang belum tahu, ROG itu kepanjangan dari Republic of Gamers. Artinya, ini tuh laptop khusus untuk main game dan ngedesain yang sangat, sangat, sangat mumpuni. Kalau Lu pada beli nih laptop cuman untuk office doang, waduh, itu penghinaan untuk nih laptop, bro! Laptop ROG ini ada 3 series setahu yang gue baca di internet, huehue.. yaitu GL Series, G Series dan GX Series. Kebetulan untuk salah satu versi GL yang GL502VM bisa kalian lihat bentuknya pada gambar di atas. Keren kan? Makanya gue ngidam punya nih laptop. Ngomongin desain, laptop ROG ini menurut gue sudah mencerminkan PREMIUM BRAND banget, yang pastinya gak mungkin dong bahannya plastik ecek-ecek. Dari versi GL553 sampai GX501 tuh dari segi desain sudah bisa buat Lo, para cowok, memikat hati seorang cewek. Lo gak perlu punya mobil mewah sekarang, cukup dengan Laptop ROG yang paling terjangkau nya sekali pun, status jomblo Lo sudah bisa berganti pacaran di fesbuk! Okeh, lebay, kita ke bahasan ROG yang selanjutnya aja.

Sekarang, kita sedikit bayangkan Performance dan hardware nya. Bicara performance, berarti bicara jeroannya. Asus ROG ini semuanya sudah pakai processor Core-i7 yang dimana merupakan processor andalannya Intel, dipadukan dengan kartu grafis GTX yang mumpuni, yah setahu gue nih GTX versi terbaru semua, yang jelas bakalan ampuh banget melahap semua game-game baru. Lu sebutin semua dah game yang Lu anggap paling berat, semua pasti bakal di babat! Apalagi Pro Evolution Soccer, alach, pakai core i3 sama kartu grafis seharga 600 ribuan aja tuh game lancar jaya, apalagi di ASUS ROG dianggap pencuci mulut doang tuh game bro! Di ASUS ROG yang kartu grafisnya GTX 1080, sudah deh setting super high semua bisa banget. Nah, salah satu versi terbarunya, setahu gue ROG ini ada Zephyrus. Secara inovasi, Zephyrus ini merupakan laptop gaming paling tipis dengan "jeroan" high class saat ini. Tebalnya cuman 1,7 cm dengan berat 2,2 kg. Jeroannya, bayangin aja nih, Core i7 terbaru 7700 HQ kalau gak salah kaby lake namanya. Sebagai gambaran sediki gimana spesifikasi processor tersebut bisa di lihat di bawah ini.


Core i7-7700HQ itu diduetkan dengan kartu grafis GTX 1080 Max-Q desain, RAM 24 GB sama SSID nya 512 GB. Di beberapa artikel yang gue baca, pendingin Zephyrus ini sudah memakai Active Aerodynamic System. Sistem pendingin ini memungkinkan bagian dari laptop bergeser saat dibuka untuk membuka jalur ventilasi yang lebih besar yang mampu mengoptimasi pendinginan sistem. Buseett, kalau dibandingin sama laptop gue yang sekarang kayak bumi dan planet yang belum ditemukan, sangking jauhnya. Layar laptop ROG ini juga semua sudah IPS Screen dimana itu merupakan versi terbaik di kelasnya dan resolusi layarnya mendukung hingga resolusi 4K! Mata kita bakal dimanjain banget tuh sama nih laptop. Gimana keyboardnya? Ya sudah pakai backlight keyboard dong, bahkan yang GX 800 sudah menggunakan keyboard mechanic yang secara kenyamanan pemakaian dan ketahanannya gak perlu dipertanyakan.

Hmm, ada yang kurang nih, gimana ketahanannya? ROG ini merupakan laptop high class yang pastinya sudah dilakukan pengujian tingkat dewa sebelum di lempar ke pasaran. Seperti tes penekanan di keyboard nya, tes getaran, goncangan, tes jatuhnya, dll. Selain itu ada garansi 2 tahun lagi, kurang baik apalagi coba ya, makin ngiler gue sama nih laptop. Artikel ini, sebenernya sih gue ikutin ke lomba Giveaway gitu, gue lihat video youtube nya Chandra Liow, hadiahnya ya laptop ASUS ROG ini, huehue.. Tapi, jangan di kira tulisan gue ini cuman untuk mendewakan ASUS ROG doang mentang-mentang ikutan Giveaway ya. Gue juga kalau ikutan Giveaway tuh yang hadiahnya jelas berkualitas. ASUS ROG memang sebagian orang di anggap laptop mahal, tapi ada harga ada kualitas bos, tergantung kita mau nyari laptop kegunaannya untuk ngapain aja. Kalau cuman untuk office gitu, mending jangan beli ASUS ROG deh, tapi kalau Lo pengin paket komplit yang office bisa, ngedesain hayuk, nge game oke ya ASUS ROG ini jawabannya. Kalau punya uang sih, gue saranin mending sekalian beli nih laptop, soalnya dari komposisi spek nya gue bisa bilang sih minimal 5 tahun kedepan gak bakal ketinggalan. Daya tahan nih laptop juga jaminan mutu, yah, asal kalian pemakaiannya sesuai anjuran ya, jangan mentang-mentang laptop high class sebulan penuh gak dimatiin juga! So, jangan ngaku gamers lah kalau gak beli ASUS ROG!

#WEAREROG #ASUSROGID #ROG





Categories: , ,

Saturday, 1 July 2017

Review Film Sweet 20: Simpel Sih, Gue Suka Film Ini!

Gambar comot google
Sebenernya sih, gak ada niatan nonton nih film. Tapi, berhubung sang pujaan hati pengen banget nonton ini, gue jadi ngikut deh. Oke, gue pernah lihat trailernya di Tipi dan bioskop. Dalam pikiran gue, ini tentang film nenek-nenek yang berubah jadi muda kembali, jadi 20 tahun. So, gak ada yang lain, ending nya pasti tuh nenek-nenek jadi nenek-nenek lagi. Iya kan? Simpel. Memang bener sih, sesuai perkiraan gue, tapi gimana proses tuh nenek-nenek jadi muda terus jadi nenek-nenek lagi itulah yang harus gue akui sangat solid. Terlepas ini adaptasi dari film Korea yang katanya judulnya Miss Granny ya, so what? Gue tetap menikmati film ini!

Di awal film, kita sudah disuguhi konflik seorang nenek bernama Fatma yang bawel. Menantu nya, Salma (Cut Mini) dan salah satu cucu nya, Luna (Alexa Key) gak suka sama sifat Fatma itu. Alhasil, anaknya Fatma, Aditya (Lukman Sardi) memikirkan opsi untuk membawa Fatma ke panti jompo. Gara-gara itu Fatma jadi merenung dan menemukan tempat kayak studio foto gitu, yang motonya 'muda selamanya'. Fatma penasaran dong, dia mau di foto untuk yah siapa tahu bisa dijadiin foto pemakamannya kelak. Sang fotografer pun melakukan tugasnya dan bilang akan membuat Fatma 50 tahun lebih muda. Hasilnya, JEBREETT! Fatma pun menjadi seorang gadis muda berumur 20 tahun! Fatma kaget dong, kulitnya jadi kenceng kembali dan cantik bingits!

Fatma, menyembunyikan identitasnya. Merubah nama jadi Mieke (Tatjana Saphira). Khusus Tatjana, mirip Dian Sastro dan Asmirandah lho.. Duh, jadi salah fokus. Oke, kembali ke review nih film, singkat cerita, Mieke ketemu sama Juna (Kevin Juliio) yang merupakan cucu nya juga, kakak dari Luna yang punya obsesi punya band rock yang terkenal. Selain Juna, Mieke juga ketemu Alan (Morgan) yang merupakan produser yang lagi sibuk mencari seorang yang punya talenta bermusik yang baik dan unik. Mieke pun masuk ke band nya Juna, untuk membantu cucu nya itu menggapai impiannya sekaligus menggapai mimpi Mieke a.k.a Fatma itu sendiri yang masih mudanya dulu pengen jadi penyanyi terkenal. Disulaplah band Juna yang rocker acakadut abis, menjadi sebuah band dengan tema jadul, yah, kira-kira retro kayak Naif gitulah dari segi penampilannya. Berkat Alan, Band nya Juna dan Mieke ini jadi terkenal, tapi justru hal itu memicu konflik-konflik yang lebih besar dan pekat.

Secara garis besar, ini film keren abis. Sebuah drama, komedi dan fiksi yang komposisinya pas. Walaupun ada plot pas menuju ending yang bisa gue tebak, mungkin karena gue dulu keseringan nulis cerita FTV, muahahaha... Tapi secara keseluruhan ceritanya oke banget. Upi, sebagai penulis skenarionya, lagi-lagi bisa membuat sebuah drama komedi yang kekinian dan gak usang. Komedi yang pecah sih yang pas nonton sinetron bersambung itu, gila lucu banget anjay! Yang sudah nonton pasti setuju itu komedi yang paling pecah dari part komedi lainnya. Gestur antara Mieke dan Fatma pun terasa gak mengalami banyak perbedaan kecuali yang gue rasain beda adalah tinggi antara kedua nya, hehe.. 

Gini, yang bikin film ini layak di tonton adalah alur ceritanya yang unik, pesan moral yang dekat dengan masyarakat kita, serta menurut gue pribadi adalah nama sang penulis skenario nya teh Upi yang gak gue raguin lagi kalau beliau pasti bisa bikin skenario film yang membuat uang yang kita keluarkan menjadi tidak sia-sia. Happy watching guys!

RATING PRIBADI: 4/5

Wednesday, 26 April 2017

Review Film: The Guys, Ada Apa Dengan Raditya Dika?


The Guys, lagi-lagi Raditya Dika mengeluarkan film dengan genre andalannya, Drama Komedi. Apa hasilnya untuk film The Guys ini? Lagi-lagi, Raditya Dika memulai dengan sosok utama yang susah dapat pacar. Di sini, gue ngerasa, lho kok kayak film Single ya?? Untungnya, komedi-komedi khas Raditya Dika cukup mengena, terbukti penonton pada ketawa. Cerita The Guys ini, singkatnya tentang empat sekawan yaitu Alfi, Rene, Sukun dan Aryo yang menjalani kehidupan pegawai biasa. Ada ambisi dari Alfi yang diperankan Raditya Dika, untuk menjadi boss. Nah, si Alfi ini suka sama cewek yang bernama Amira yang diperankan oleh Pevita Pearce.

Komedi menurut gue cukup kuat pada karakter Sukun yang orang Thailand "baru" 2 tahun di Indonesia, tapi ngomong Indonesia nya belum lancar-lancar. Pedekate Sukun ke cewek yang nyebut si cewek itu cabe-cabe an sampai ngomong mau meninggal padahal maksudnya ninggalin Indonesia jadi bukti betapa somplaknya Bahasa Indonesia si Sukun. Kelucuan-kelucuan empat sekawan tersebut sepanjang film, yah, menurut gue cukup kena walaupun komedi itu juga relatif sih. Cerita setelah kehidupan The Guys yang kompak kemudian berkembang. The Guys, punya bos yang namanya Jeremy yang diperankan oleh Tarzan. Oke, dalam hati gue, "sekarang mirip My Stupid Boss". Bisa di tebak, si Jeremy ini boss yang disegani oleh The Guys lantaran masing-masing pernah ngalamin "kegalakan" si boss. Singkat cerita nih, si Amira tertarik sama sosok Alfi yang menurutnya berbeda. Alfi, dengan jantan jadi tameng bagi Amira pas dimarahin sama Pak Jeremy lantaran gagal persentasi di hadapan klien terbesar perusahaan. Jujur part itu menurut gue cool banget.

Konflik kemudian muncul ketika Alfi tau kalau Pak Jeremy tuh ternyata adalah Bokapnya Amira. Sialnya lagi, Pak Jeremy dan Nyokapnya Alfi yang single parents saling jatuh hati. Wah, kalau gitu gimana dong nasib nya Alfi sama Amira? Nah, di sini gue gak mau jelasin gimana hasil akhirnya, soalnya entar yang mau nonton gak penasaran lagi, hehe.. Begini deh, gue selalu nonton film-film Raditya Dika. Menurut gue, ada yang hilang dari karya Raditya Dika yang satu ini. Gue lihat sih, yang nulis ceritanya bukan Raditya Dika sendiri, mungkin ada pengaruh nya ya. Sebenarnya sudah oke, tapi entah kenapa ada yang kurang renyah dari segi kemasan plotnya. Kalau dibandingin sama Film Single yang bergenre sama, gue masih lebih suka Single. Mungkin beberapa orang ngerasa, mulai bosan sama apa yang ditawarkan Raditya Dika. Mungkin juga nih, inilah saatnya Raditya Dika berpikir keras untuk menghasilkan sebuah film yang gak gitu-gitu aja.

Rating Pribadi:

Thursday, 6 April 2017

Film Danur : Ada Usaha Mengembalikan Horor Pada Tempatnya!

Foto nyomot dari google

Beberapa hari yang lalu, gue sama pacar rada mengubah rencana yang tadinya cuman mau makan, jadi berujung ke bioskop. Celakanya, rencana dadakan itu ngebuat kita nonton film yang dadakan juga, yaitu Danur. Awalnya sih rada males ya, Prilly gitu loh yang mainnya. Tapi gue nggak begitu menjelekkan Prilly sih, soalnya gue suka aktingnya di film Hangout. Pertanyaannya, akting dia minimal kayak gitu gak di film Danur ini? Apalagi ini horor murni, pasti banyak yang kepikiran, Pliss deh Prilly yang centil itu main film horror?

Film Danur ini diangkat dari kisah nyata Risa Saraswati, bahkan ada bukunya. Gue sih belum baca bukunya, tapi kalau sebuah buku sudah dijadiin film sih pasti tuh buku termasuk yang bagus penjualannya. So, di mulai dari awal cerita, gue sudah suka sama permulaan yang cukup menegangkan dengan Risa yang diperankan oleh Prilly lagi main piano sambil mendendangkan lagu sunda boneka abdi yang oke untuk dijadiin ritual memanggil trio hantu anak kecil. Di awal aja penonton sudah bertanya-tanya, siapa mereka? Alur kemudian berubah jadi mundur, gue suka film dengan alur maju mundur! Risa kecil, ceritanya nih tumbuh di keluarga yang bisa di bilang gak bahagia. Risa jarang banget dapet perhatian dari Nyokapnya yang kerja terus. Nah, di hari ultahnya itulah, Risa berharap dapat teman yang bisa nemenin dia main. Ketemu deh Risa kecil ini sama trio hantu bernama Janshen, William sama Peter. Proses ketemunya itu loh, kamvret banget, ngagetin kambing!Tapi ternyata trio hantu ini gak baik-baik banget sih, mereka sempat menuntun Risa untuk bunuh diri biar bisa ngikut mereka jadi 'hantu', yah gara-gara Risa juga sih yang bilang pengen main sama mereka terus dan gak pengen berpisah dengan mereka. Untung aja ada Nyokapnya Risa yang ngebawa 'orang pinter', sehingga Risa bisa diselamatkan. Dan ketika mata batin Risa kecil di buka oleh si orang pinter, sosok Peter, William dan Jenshen yang sebenarnya pun terbuka. JENG JENG!! Risa pun menjerit histeris dan sejak saat itu Risa nggak pernah ketemu sama trio hantu anak kecil itu lagi.

Beberapa tahun berlalu, Risa gede yang sudah diperankan oleh Prilly itu punya adik yang bernama Riri. Maksudnya sih untuk jagain nenek mereka yang sakit, eh, dasar film si Riri jalan-jalan di deket pohon beringin terlarang dan ngambil sisir yang ada di sana untuk nyisir boneka nya. Gara-gara itulah, Riri mulai di ikuti oleh hantu Bi Asih yang celakanya di kirain Baby sitter yang di kirim untuk merawat Riri. Di pertengahan film, Risa baru tahu deh kalau Bi Asih itu bukan manusia! Oke, cukup segitu ya cerita filmnya, kalau dilanjutin bakal spoiler. Gue langsung aja masuk ke poin penilaiannya. Pertama, make up, menurut gue sih cukup amanlah. Walaupun ada kejanggalan dikit pas Prilly shalat tapi masih kece alias make up an, padahal itu di rumah dan nggak ada kelihatan abis wudhu nya. Whatever lah, mungkin biar tetep keliatan good looking kali yaa.. Kedua, akting. Semua pemain nya menurut gue juga bagus aktingnya, tapi satu yang disayangkan adalah pemilihan karakter 'orang pintar' yang masih berkutat mirip 'dukun'. Ketiga, sound effect. Film horror gak bakal berasa horror kalau sound effectnya gak bagus. Nah, di film Danur ini, sound effect nya juga oke, decitan pintu, sound pas tiba-tiba hantunya muncul. Semua di kemas dengan pengambilan gambar yang juga cukup cermat. Untuk plot, ada sedikit mirip Insidious dan efek hantunya agak mirip hantu-hantu Jepang kayak Sadako gitu, agak sedikit mengecewekan sih di sisi itu.

Intinya, film Danur ini memang belum sebagus Jelangkung 1 kalau menurut gue. Ada kejanggalan di trio hantu yang awalnya pengen 'ngebunuh' Risa tapi kok ujungnya ngebantu, gue ngerti sih tapi itu agak mengambangkan pemikiran penonton, ada juga 'orang pintar' yang masih memakai pemikiran kuno dengan tampilan bak dukun, sampai ke unsur-unsur yang ngikut horor luar. Tapi hal-hal negatif itu tertutupi oleh kemasan horor yang sudah nggak vulgar lagi. Beberapa film horror Indonesia belakangan ini kayaknya mulai meninggalkan genre 'horor KFC', itu yang harus di apresiasi, di mana ada usaha untuk mengembalikan genre horor pada tempatnya tanpa embel-embel 18+. Film Danur ini adalah salah satunya, sudah layak di tonton bagi kalian penggemar film horor. Hiiiiiiii.....

Rating pribadi (4/5):

Sunday, 2 April 2017

Review Handphone Vivo Y55S : Hape 2 jutaan Yang Cukup Asyik

Kemarin, berhubung gue dapet bonus dari kantor, gue memutuskan untuk beli hape baru. Sebenernya target hape nya cukup sih di budget 3 jutaan, tapi berhubung gue pengguna hape yang alakadarnya, yang penting hape nya enak dioperasikan, kualitas kameranya gak jelek-jelek amat plus cuman untuk dengerin musik-musik syahdu dan game-game yang ringan, gue memutuskan untuk memangkas anggaran jadi 2 jutaan aja. Setelah berkelana kesana kemari di sekitaran rumah doang sih, gue memutuskan untuk beli hape kelas menengah nya Vivo, tipe Y55S! Kata yang jualnya sih keluaran 2017 ini, bener gak sih? cek google aja kali ya, gue kan bukan reviewer hape profesional, huehue..

Vivo Y55S ini sudah mengusung Android 6.0.1 atau bisa disebut juga Android Marshmallow, iya dong hape 2 jutaan kalau masih Android KitKat sih keterlaluan! pake Chipset Qualcomm MSM8917 Snapdragon 425, setahu gue sih ya chipset snapdragon sudah teruji ya performanya. Pas gue coba sih yaaa performanya sesuai harapan lah, gak cepet banget tapi juga gak lambat. Nah, yang paling gue suka dari hape ini tuh ukuran layarnya yang 5,2 inch, jadi di genggaman tuh mantap, pas! Desainnya juga oke, yah kayak merk Oppo gitu lah, gue beli yang gold jadi kelihatan lebih elegan gitu. Walaupun layarnya masih IPS LCD, 16 M Colors plus kerapatan pixel cuman sekitaran 282 ppi, tapi cukup enak di lihat lah. Gimana dengan memorinya? Vivo Y55S ini ada dua pilihan RAM, yaitu 2 dan 3 GB. Sialnya, gue cuman kebagian yang 2 GB anjay! Untuk internal sih cuman ada 16 GB doang, tapi masalah memori itu sih bisa di tambah pakai micro SD sampai 258 GB katanya.

Terus, gimana performa game nya? gue belum nyoba banyak game sih, baru The Sims doang dan itu lancar jaya. Gue sih punya feeling bakal baik-baik aja, dalam artian gak parah-parah banget lah kalau main game 3D yang rada berat soalnya selain chipsetnya Snapdragon, GPU nya juga Adreno 306 yang setahu gue bisa ngasih tampilan grafis yang cukup tajam ya, apalagi kalau Y55S nya ngambil yang RAM 3 GB tuh. Untuk fitur, Y55S ini ada mode perlindungan mata bro, jadi pas bangun tidur kalau aktifin mode itu mata gak kaget lihat layar hape nya. Terus ada screenshoot super yang bisa ngambil tampilan hape dari atas sampai bawah lagi, kan biasanya kalau tampilan ada scrollingnya yang bawah gak ketangkep tuh jadi harus dua kali, nah di Y55S ini langsung ter cover semua, juga bisa nge record aktifitas orang yang pakai hape kita loh, jadi kalau temen mau usil ketahuan deh, hihihi... Sayang nya, ini nih yang bikin gue kecewa berat, gak ada fitur fingerprint! Anjaaayy!

Vivo Y55S ini juga gak ada software liar yang gak berguna sih menurut gue. Software-software bawaannya pertama kali beli itu 98% bermanfaat bagi gue. Gimana dengan kamera nya? Vivo Y55S ini kamera belakangnya 13 MP dan kamera depan 5 MP. Walaupun kamera depannya cuman 5 MP, tapi hasilnya bagus sih. Hape gue dulu evercoss A7Z juga kamera depannya 5 MP, tapi foto yang dihasilkan gak memuaskan. Walaupun yaa terbilang nanggung, mending beli Vivo V5 sekalian sih kalau mau ngincer kamera selfie yang lebih oke. Terus apa lagi yak, oh iya, batrainya. Ini dia satu aspek kekurangan lagi dari Vivo Y55S ini, batrenya cuman 2730 mAh! Gue tau sih kapasitas mAh itu bukan segalanya, tapi dari pengalaman gue ya kurang begitu awet sih. Bisa sih di ajak dari pagi sampai malam baru di cas, tapi itu aktifitas penggunaan hapenya kudu minim banget. Segi batrei nya kurang cocok untuk yang suka berlama-lama dengan hape nya, apalagi yang suka main game di jamin lebih cepet abisnya. Kalau buat gue yang gak addict banget sama gadget sih  cukup lah. Satu lagi nih sound nya. Apakah Vivo Y55S ini soundnya oke? Jawabannya adalah Yupzz! Apalagi pas pake headshet bawaannya tuh, volume paling gede juga berasa tetap empuk di telinga, gak cempreng.

Kesimpulannya, Vivo Y55S ini cukup asyik untuk hape yang di bandrol 2 jutaan, tepatnya Rp.2.299.000. Setiap hape ada kekurangan itu menurut gue wajar, tinggal kita nya aja butuhnya yang gimana. Sory, gue gak menyertakan gambar di postingan ini, lagi males upload. Untuk refrensi lebih jelas mungkin kalian bisa googling atau youtube aja ya, gue ini kan nulisnya berdasarkan pengalaman pribadi aja, tapi mungkin ada vendor hape yang berminat gue review hape nya boleh deh sini gue review *usahaNyariSponsor*. :p


luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com

Copyright © Zona Feby Andriawan | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | BTheme.net      Up ↑